Itu nukilan ucapan Prabowo Subiyanto, Presiden Republik Indonesia ke-8 disampaikan tatkala memberi sambutan kegiatan Partai Keadilan Sejahtera di Jakarta, Saya terkesima mendengar pernyataan itu, yang sampai sekarang masih viral di media sosial.
‘’Gila, gila, gile nich yeee…, ‘’ itu respon saya dadakan. Seketika dada bergemuruh, serasa tercekat dalam ruang sempit, sesak sulit bernafas!! Kecamuk nyinyir menguar campur aduk, meski tak bersuara.
Saya menaruh harapan besar pada putra, Prof Soemitro Djojohadikusumo, Begawan Ekonomi dapat berkontribusi nyata untuk Indonesia bersih dari korupsi, Kekhawatiran besar menghantui, korupsi itu rasanya telah menjadi darah daging. Ketika kebohongan terus diteriakkan dia akan menjadi kebenaran. Korupsi di negeri ini rasanya sudah jadi darah daging.
Kita sendiri (mungkin) turut terlibat, meski tak sadar, menikmati mesti tak sengaja. ‘’Kalau bukan kita, bisa jadi orang tua, atau anak, menantu, pendeknya bagian dari kita.
Analogi lain seperti: “Berenang di lautan, airnya asin. Akankah kita bisa mendapat air tawar?’’ Itu gerutu kecamuk di benak, cuk cianjuk jadi pusing tujuh keliling kepala.
Sedikit melegakan, visi Prabowo Subiyanto, Paradoks Indonesia saya sudah membaca dan menceranya dengan sejumlah insight. Jika itu yang menjadi goal, nawaitu untuk Indonesia tidak ada yang tidak mungkin.
Pasukan Abrahah dapat dikalahkan ketika Allah menurunkan burung ababil. Menilik sejarahnya ayahanda Ragowo Hediprasetyo, buah cinta dengan Siti Hediati Soeharto, adalah tokoh yang tangguh.
Terlahir dari keluarga intelektual, kariernya gemilang, dia adalah ‘Rising Star’ orang nomor dua di tubuh militer pada zamanya, Jenderal bintang tiga, jabatannya adalah Pangkostrad. Tapi fakta semua itu berakhir tragis! Bintangnya dilucuti, diusir, dicaci maki, Prabowo tak lebih dari seekor kucing kurab, kontras, miris nasibnya berubah sekejap .
Sebagai manusia, putra Begawan Ekonomi, menantu Penguasa Republik Jenderal Besar Soeharto sudah tamat. Harga diri, harkat, martabat sudah tidak ada lagi. Prabowo telah mati secara sosial.
Karenanya ketika dia hidup lagi, bangkit, kisahnya bak film ‘Mission Imposible’ dalam narasi nyata. Dari perantauan nun jauh di jazirah Arab, Jordania, Prabowo kembali ke tanah air. Sebagai orang biasa, sipil biasa, bukan lagi menantu Soeharto, tanpa bintang di pundaknya, bahkan bukan suami dari Titik (Prabowo), yang abadi adalah bapak dari putra semata wayang Ragowo ‘Didit’ Hediprasetyo.
Satu hal, tokoh yang sekarang menjadi Presiden RI ke-8 datang bukan sebagai pencundang, karena kembali atas permintaan Presiden RI ke-5 Gus Dur. Saat menjadi Presiden Gus Dur yang dekat dengan Prabowo menemui di Jordania. Gus Dur minta Prabowo pulang, kembali ke Indonesia untuk ikut serta membangun tanah air.
Permintaan Gus Dur itu terwujud, meski Prabowo secara formal kembali ke Indonesia sudah Megawati yang menjadi Presiden. Turbulensi politik Abdurahman Wahid diturunkan dari jabatan Presiden, Mega sebagai Wapres naik menggantikannya.
***
Beberapa waktu lalu, saya mengikuti PPNK Lemhanas Angkatan 221, saya beroleh asupan yang begitu inspiratif. Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Fenomena ganjil terjadi di negeri yang gemah ripah loh jinawi, di dalam bumi harta karun tak ternilai, ada emas, nikel, bauksit, batu bara, tetapi masih ada kemiskinan, dan stunting karena kurang makan, kurang gizi.
‘’Yok opo rek iki, pemimpin-pemimpin kita di mana?” itu cuatan yang tak terartikulasikan. Naif!!
Karenanya memijakkan spirit dan tekad Presiden Prabowo harapan untuk Indonesia lebih baik menyiratkan secercah harapan. ‘’Ada yang nyinyir, dan mengkritik program (MBG) Makan Bergizi Gratis, itu tidak rasional. Ada yang menuding absurd. Pemborosan, ada ejekan satire bukan Makan Bergizi Gratis, tetapi Makan Beracun Gratis, saya dengar itu, tetapi MBG harus tetap jalan,’’ itu tekad Presiden.
